Cinta Tak Harus Memiliki
Siang hari yang panas dan membosankan, aku
duduk di atas kursi kayu coklat yang rapuh di ruang kelasku. Aku duduk
di kursi paling belakang sebelah kiri, sejajar dengan pintu kelas
berwarna biru dengan gagang yang patah. Tepatnya, di SMA Negeri 22
Jakarta aku bersekolah.
Sudah hampir dua jam guru bahasa Inggris ku mendongeng
di depan kelas. Berkali-kali aku melirik jam dinding yang terpajang di
depan kelas. Terus berharap agar jarum panjang jam itu bergerak lebih
cepat menuju angka dua belas, yaitu jam tiga. Tentu saja itu jam pulang
sekolah, saat yang ditunggu-tunggu teman-temanku bahkan semua murid di
dunia ini sangat menanti jam pulang sekolah.
Namun, jarum panjang masih berada di angka
delapan. Aku bergegas merapikan buku-bukuku yang tergeletak di atas meja
dan kembali melanjutkan tidurku yang sempat terbangun akibat lemparan
penghapus papan tulis yang dilontarkan guru itu ke kepalaku, yang
menyebabkan munculnya tanduk di keningku alias benjol.
“Teng tererengteng, teng tereng….”
Aku terbangun tepat saat bel sekolah
berbunyi. Aku langsung berdiri dan memakai tasku yang ringan, yang
isinya tidak lebih dari enam buah buku tulis dan satu buah pulpen warna
hitam.
Segeralah aku berjalan ke luar kelas untuk
pulang. Sebelum ku berhasil meninggalkan kelas, temanku, Raisa,
memanggilku. Perempuan berbadan mungil dan berambut lurus panjang itu
menghampiriku. Wajahku memucat, aliran darahku mengalir cepat, dan
tubuhku gemetar ketika dia berdiri di hadapanku. Bagaimana tidak? Sejak
pertama bertemu di kelas 12 IPS-1 aku mengaguminya. Wajahnya lucu dan
menggemaskan, dia juga soleha, itu yang membuatku terpikat olehnya.
Namun, nyaliku tak cukup kuat untuk menyatakannya.
“Dan? Danu? Kamu baik-baik aja?” serunya ketika melihatku terpana kepadanya.
“Eh, maaf, aku ngelamun. Hehe. Ada apa memanggilku?”jawabku panik.
“Nanti malam kamu bisa ga ke rumahku?” ia bertanya kepadaku.
“Oh, iya,bisa kok bisa. Mau ngapain ya?” aku kembali bertanya.
“Aku ga ngerti pelajaran matematika, Dan. Aku
lihat nilai kamu sempurna, makanya aku minta kamu ajarin. Sampai ketemu
nanti malam ya.” katanya dengan wajah tersipu malu.
Aku tersenyum. Dia pergi sebelum aku kembali
membalas ucapannya. Aku tidak terlalu mempedulikan hal itu, yang pasti
hatiku sangat senang dia mengajakku datang ke rumahnya nanti malam.
Kembalilah aku lanjutkan perjalanan pulang dengan senyuman yang masih
menghiasi wajahku, hingga aku sampai di rumah.
Jarum jam telah menunjukkan pukul lima sore.
Baru saja aku selesai mandi sore. Aku buka pintu lemariku, ingin
mengambil baju terbagus yang berada di tingkat kayu paling atas
lemariku, cukup tinggi untuk diraih dengan tanganku. Sepertinya rasa
senang di hati ini dapat merubah segalanya, dengan semangat aku bisa
langsung meraihnya.
Tak ku duga, selembar foto berukuran 4R jatuh
tepat di kaki kananku, ketika berusaha menarik baju itu dari dalam
lemari. Terlukis indah wajah Piko di atas kertas itu, dia kucing
peliharaanku. Makhluk mungil yang selalu menemaniku, bahkan terkadang
aku mencurahkan isi hatiku dengannya ketika ada masalah. Yang paling aku
suka, yaitu bulunya yang berwarna coklat krim yang membuatnya terlihat
mewah.
Sekitar tiga tahun yang lalu, ketika aku
masih duduk di bangku SMP kelas 3, aku menemukan Piko di samping rumah
tetangga yang agak jauh dari rumahku. Dia masih sangat kecil dan berbulu
sedikit. Dia terlihat kedinginan dan sekarat. Sepertinya dia kelaparan.
Aku langsung membawanya ke rumahku dan memberinya makan. Keluargaku
dengan senang hati membolehkanku untuk memeliharanya. Aku sangat senang.
Dia lucu seperti Pikachu, karna itu aku menamainya Piko. Lalu, aku
merawatnya hingga ia dewasa.
Aku teringat ketika aku kelas 2 SMA. Sesampai
aku di rumah setelah pulang sekolah, aku melihatnya berdiri terdiam di
teras rumah memperhatikan seekor kucing cantik berwarna putih yang
berdiri di depan gerbang rumahku, sebut saja Melow karena warnanya putih
seperti mars mellow. Piko terus memperhatikannya. Kucing putih itu pun bicara. Sepertinya dia memberikan sebuah kode.
“Meaw!” katanya.
“Meong!” seru Piko.
“Meaw, Meaaaaw…!” saut Melow dengan nada yang lebih tinggi.
“….” Piko terdiam, tak mengalihkan pandangannya selain ke wajah Melow.
Aku pusing mendengar percakapan mereka.
Jangankan bahasa kucing, bahasa Inggris pun aku belum lancar. Oleh sebab
itu, aku meninggalkan mereka di luar dan bergegas untuk beristirahat.
Terbangunlah aku di malam hari sekitar jam
tujuh malam. Ibu sudah mempersiapkan makan malam di meja makan, satu
piring untukku dan satunya untuk kucing tercintaku, Piko.
“Bu, Piko di mana?” tanyaku heran.
“Lho, Ibu kira dia tidur bersamamu di kamar?” jawab ibuku.
Aku berlari ke luar rumah, mencari Piko ke
sekeliling daerah rumahku. Hanya berbalut kaus oblong dan celana kolor
berwarna putih aku pergi mencarinya. Air mata terus menetes di pipiku.
Hatiku sangat terpukul ketika tahu dia menghilang.
Kini aku sudah kelas 3 SMA, sampai sekarang
pun belum pernah sekali saja aku melihat Piko. Entahlah, aku tak tahu
apakah dia masih hidup atau sudah mati termakan alam yang liar?!
Ibu menepuk keras punggungku. Membawaku pergi
dari bayang-bayang masa lalu. Dia mengingatkanku kembali bahwa aku ada
pertemuan malam ini. Meskipun sekarang bukan malam Minggu, aku tetap
bersyukur bisa menghabiskan malam bersama insan terkasihku, Raisa.
Sepertinya waktu sudah menunjukkan jam setengah tujuh, sudah saatnya aku
pergi menuju rumahnya. Segeralah aku berpamit dengan ibuku dan lekas
pergi dengan membawa tas berwarna coklat berisi beberapa buku dan alat
tulis. Aku berjalan kaki menuju rumah Raisa.
Setengah perjalanan telah ku tempuh.
Perjalanan yang jauh bukanlah penghalang bagiku untuk tetap menuju
rumahnya. Sayangnya, aku baru ingat bahwa jalan yang biasa ku lewati
sepulang sekolah ditutup, karna ada pesta pernikahan. Terpaksa aku
mengambil jalan memutar yang sangat jarang aku lewati.
Jalan itu gelap, sangat terlihat jelas dari
kejauhan. Aku gugup dan tidak yakin untuk melewati jalan kecil itu.
Namun, aku tidak punya pilihan lain. Akhirnya, aku tetap memberanikan
diri untuk melewati gang itu.
Suasana tegang menyelimutiku. Bisa
dibayangkan bagaimana rasanya melewati gang sepi yang hanya bercahayakan
bintang dan lampu 5 watt, rasanya sudah seperti uji nyali di sebuah
acara televisi. Beberapa langkah telah ku tempuh, tetapi perasaanku
semakin kacau. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya?! Yang pasti aku
memiliki firasat yang buruk.
Selama kurang lebih lima menit aku menelusuri
gang lurus itu, sampai akhirnya ku menemukan pertigaan jalan. Ku
mencoba menerawang, mencari tahu lewat naluriku, memilih jalan mana yang
harus ku lewati. Hatiku telah mantap, lebih memilih untuk belok ke
kiri. Aku pun meneruskan perjalananku, masih dengan hati yang cemas.
Tidak lama setelah ku berbelok, aku mendengar
suara yang sedikit tidak jelas seperti memanggilku. Aku mengalihkan
pandanganku ke belakang. Terlihat dua orang pemuda berambut tipis, yang
berusia sekitar 22 tahun, sedang nongkrong sambil memegang
gelas plastik yang berisi cairan berwarna hitam. Aku mengembalikan
pandanganku ke arah depan untuk meneruskan langkahku. Salah satu dari
mereka berbicara kembali, aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Aku
menghiraukannya.
“Hei, berhenti kau!” salah satu pemuda berbicara dengan nada yang lebih tinggi.
Aku terhenti dan sejenak
berpikir. Kini aku tahu mengapa suara mereka samar. Sekarang aku juga
mengerti minuman apa yang sedang mereka bawa. Itu bir, tidak salah lagi
kalau mereka berdua sedang mabuk. Aku mencoba menenangkan perasaanku
yang cukup tegang. Aku berjongkok sebentar, mengencangkan ikatan
tali-tali di kedua sepatuku, aku kembali berdiri tegak, dan… lari.
Sepertinya sekarang hari sialku. Aku pikir
dua orang pemuda bercelana pendek itu akan tetap duduk manis
menghabiskan minumannya. Kenyataannya, mereka mengejarku. Aku terus
berlari dalam kegelapan, berlari lurus ke depan. Aku cukup lega berhasil
menjauhinya, sampai akhirnya di depanku terlihat jalan ke arah kiri.
Dengan yakin aku berbelok ke arah kiri, niatku untuk menghilangkan
jejakku. Namun, kakiku mendadak berhenti, ternyata jalan yang ku lalui
ialah jalan buntu. Aku panik, hanya bisa mengamati sekeliling jalan
buntu sepanjang sepuluh meter itu. Melihat ke kanan dan ke kiri,
berharap menemukan sebuah tempat sampah agar ku dapat bersembunyi.
Jejak mereka semakin dekat, semakin jelas
terdengar langkah kaki penuh kekejian itu. Tak ada jalan lain, aku harus
menghadapinya. Aku berpikir, lebih baik aku mati berusaha daripada aku
mati karena diam saja. Lalu aku berbalik ke belakang. Sudah ku duga
mereka akan menemukanku. Mulai sekarang aku menyebutnya Tikus dan Lalat,
karena bagiku mereka hanyalah hama di kota ini.
Dengan lelah mereka langsung berhenti di gang
ini. Sepertinya mereka sudah tahu kalau ini jalan buntu. Mereka
melihatku dan tersenyum jahat kepadaku. Aku menghela napas dalam,
mengepalkan tangan, dan mengencangkan semua otot-ototku.
“Kau tak bisa pergi sebelum menyerahkan
barang berhargamu! Tapi kau bisa pergi jika mengalahkan kami.”tantang
salah satu pemuda itu yang ku sebut Lalat, karena agak kurus.
“Sudahlah, menyerah saja! Kau hanya mencoba membunuh diri sendiri kalau melawan.” sahut Tikus yang bertubuh agak gemuk.
“Kita tak akan pernah tahu jika belum mencoba, bukankah begitu?” jawabku dengan yakin.
“Baiklah kalau itu maumu.” ujar Tikus dengan kesal.
Tikus mulai maju untuk menyerangku. Kini aku
tengah mengalami pertarungan sengit. Tikus mencoba meninju wajahku
dengan tangan kanannya. Aku berhasil menggerakkan kepalaku ke
arah kiri sehingga pukulannya meleset. Keadaannya lengah berkat gerakan
menghindarku. Ini kesempatanku menyerangnya. Aku mengepalkan tangan
kiriku dan mengencangkannya, dengan cepat aku memutar tubuh ke kanan dan
memukul dengan kuat leher Tikus dari belakang. Dia terjatuh dengan
cepat karna tinjuku, wajahnya membentur aspal dan pingsan.
Lalat terlihat sangat marah. Kerut di dahinya
bertambah. Dia langsung menyerangku dengan kaki kanannya, aku berhasil
menangkapnya. Namun, dia melompat dengan kaki kirinya dan langsung
menendangku leher ku sebelah kanan. Aku terpental ke tembok. Tanganku
melindungi kepalaku agar tak terbentur. Suasana semakin memanas, dia
terlihat sangat marah, begitu pula diriku.
Aku mencoba membalas serangan Lalat. Ku
kencangkan kaki kananku dan langsung menendang ke arah dadanya. Dia
berhasil menangkap kakiku dan mendorongnya ke depan. Aku tetap berdiri,
tetapi keseimbanganku hilang. Dia melompat ke udara, berputar 360
derajat ke arah kanan dan langsung menendangku dengan kaki kanannya. Aku
hanya terpaku melihat gerakannya. Sepertinya kali ini bukan
tandinganku, aku curiga dia mempunyai ilmu bela diri. Kaki kanannya
tepat mengenai dadaku, aku terlontar jauh ke belakang dan membentur
dinding.
Aku lelah dengan pertarungan ini. Jantungku
berdegub kencang dan keringat pun membanjiri pakaianku. Di depan gang
aku melihat kucing yang sangat mirip dengan Piko, aku melihatnya saat
aku melayang di udara terkena tendangan Lalat. Kini dia sudah pergi dari
pandanganku.
Lalat berhasil membuatku jatuh bersandar di
tembok. Aku sudah menyerah dengan keadaan ini. Namun, dia terus memukul
wajahku secara perlahan. Selama lima menit wajahku dipukulnya.
Tiba-tiba tujuh ekor kucing yang gagah.
Sejumlah tiga ekor kucing datang dari belakang Lalat, dua ekor dari atap
rumah sebelah kanan, dan dua ekor lagi dari atap rumah sebelah kiri.
Kedua mataku sepertinya bengkak, aku tidak dapat melihat kucing-kucing
itu dengan jelas. Namun, aku curiga kucing yang berdiri di tengah
layaknya pemimpin itu adalah kucing yang mirip dengan Piko tadi. Ya,
kucing yang datang dari arah belakang itu sepertinya memang Piko. Aku
tersenyum melihatnya, tatapi aku juga heran mengapa mereka
menghampiriku.
Mereka berlari ke arah Lalat. Entah apa yang
akan mereka lakukan aku tidak mengerti. Mereka melompat. Satu ekor
menyerang tangan kirinya, satu ekor lainnya menyerang tangan kanannya,
dua ekor menyerang kaki kanannya, dua ekor lainnya menyerang kaki
kirinya, dan Piko melompat tinggi dari belakang menuju tepat ke arah
kepala Lalat untuk mencabik wajahnya. Oh Tuhan, aku semakin cemas. Aku
rasa aku sudah di ambang kematian. Bagaimana tidak? Tujuh ekor kucing
datang dan menyelamatkanku, sangat tidak masuk akal.
Kejadian itu tidak berlangsung lama. Sekarang
pemuda tangguh yang jahat itu sudah terkapar di aspal dengan wajah yang
penuh darah. Sepertinya dia hanya pingsan. Aku belum mampu berdiri,
tubuhku masih lemas. Aku tetap duduk bersandar di dinding, memperhatikan
kucing-kucing itu. Ternyata yang tadi ku lihat di depan gang memang
Piko, dia pergi memanggil enam ekor temannya untuk menyelamatkanku.
Sepertinya Piko berniat membalas semua yang
telah aku lakukan di masa lalu. Ya, aku merawatnya sejak kecil hingga ia
besar. Dia perlahan menghampiriku, aku memeluknya. Aku dapat
merasakannya, di dalam dirinya tersimpan kerinduan yang sama sepertiku.
Aku tidak bisa memperhatikan keadaan sekitarku, karena aku belum cukup
puas untuk melepas rinduku. Aku hanya terpejam dan terus memeluknya.
“Piko, pulanglah ke rumah!” aku mengajaknya untuk pulang saat aku memeluknya.
“Meaaaw!” sahut seekor kucing yang nadanya lebih tinggi seperti kucing betina.
Suara kucing itu tak asing bagiku, aku
membuka mata, mencoba melihat siapa kucing itu. Dugaanku benar, ternyata
suara itu berasal dari Melow, kucing putih yang cantik, yang saat itu
membuat Piko terpana melihatnya. Melow datang dengan ramah, bersama dua
ekor kucing kecil yang lucu. Kucing itu berwarna coklat krim seperti
Piko, yang satu lagi berwarna putih seperti Melow.
Kini aku mengerti, kenapa saat itu Piko pergi
dari rumah?! Karena dia seperti manusia, ingin berkeluarga. Dia pergi
untuk mengejar Melow, dan dua kucing mungil itu ialah anaknya. Dia juga
butuh teman. Sekarang aku mengerti bahwa cinta tidak harus memiliki, aku
memang mencintai Piko. Aku memang selalu ingin hidup bersamanya. Namun,
aku tidak boleh egois, karena dia juga punya kehidupannya sendiri,
kehidupan sebagai kucing.
“Meooong!” ujar Piko.
Piko turun dari pelukanku, menghampiri istri dan kedua anaknya. Dia pun mengajak temannya untuk pulang.
Saat-saat yang menegangkan telah selesai.
Jarum jam pun menunjukkan pukul sembilan malam. Saat ini aku sudah bisa
berdiri, walaupun tidak kokoh. Kedua penjahat tadi masih tergeletak di
aspal, tak sadarkan diri. Aku mencoba jalan perlahan untuk kembali ke
rumah dan beristirahat. Sangat mustahil bila aku tetap datang ke rumah
Raisa. Namun, aku telah menelpon Raisa dan menjelaskan semuanya. Aku
senang dia mengerti keadaanku, bahkan dia mau menjengukku di esok hari.
Terima kasih, Piko!