Jumat, 16 November 2012

Cinta Tak Harus Memiliki

Siang hari yang panas dan membosankan, aku duduk di atas kursi kayu coklat yang rapuh di ruang kelasku. Aku duduk di kursi paling belakang sebelah kiri, sejajar dengan pintu kelas berwarna biru dengan gagang yang patah. Tepatnya, di SMA Negeri 22 Jakarta aku bersekolah.
Sudah hampir dua jam guru bahasa Inggris ku mendongeng di depan kelas. Berkali-kali aku melirik jam dinding yang terpajang di depan kelas. Terus berharap agar jarum panjang jam itu bergerak lebih cepat menuju angka dua belas, yaitu jam tiga. Tentu saja itu jam pulang sekolah, saat yang ditunggu-tunggu teman-temanku bahkan semua murid di dunia ini sangat menanti jam pulang sekolah.
Namun, jarum panjang masih berada di angka delapan. Aku bergegas merapikan buku-bukuku yang tergeletak di atas meja dan kembali melanjutkan tidurku yang sempat terbangun akibat lemparan penghapus papan tulis yang dilontarkan guru itu ke kepalaku, yang menyebabkan munculnya tanduk di keningku alias benjol.
“Teng tererengteng, teng tereng….”
Aku terbangun tepat saat bel sekolah berbunyi. Aku langsung berdiri dan memakai tasku yang ringan, yang isinya tidak lebih dari enam buah buku tulis dan satu buah pulpen warna hitam. 
Segeralah aku berjalan ke luar kelas untuk pulang. Sebelum ku berhasil meninggalkan kelas, temanku, Raisa, memanggilku. Perempuan berbadan mungil dan berambut lurus panjang itu menghampiriku. Wajahku memucat, aliran darahku mengalir cepat, dan tubuhku gemetar ketika dia berdiri di hadapanku. Bagaimana tidak? Sejak pertama bertemu di kelas 12 IPS-1 aku mengaguminya. Wajahnya lucu dan menggemaskan, dia juga soleha, itu yang membuatku terpikat olehnya. Namun, nyaliku tak cukup kuat untuk menyatakannya.
“Dan? Danu? Kamu baik-baik aja?” serunya ketika melihatku terpana kepadanya.
“Eh, maaf, aku ngelamun. Hehe. Ada apa memanggilku?”jawabku panik.
“Nanti malam kamu  bisa ga ke rumahku?” ia bertanya kepadaku.
“Oh, iya,bisa kok bisa. Mau ngapain ya?” aku kembali bertanya.
“Aku ga ngerti pelajaran matematika, Dan. Aku lihat nilai kamu sempurna, makanya aku minta kamu ajarin. Sampai ketemu nanti malam ya.” katanya dengan wajah tersipu malu.
Aku tersenyum. Dia pergi sebelum aku kembali membalas ucapannya. Aku tidak terlalu mempedulikan hal itu, yang pasti hatiku sangat senang dia mengajakku datang ke rumahnya nanti malam. Kembalilah aku lanjutkan perjalanan pulang dengan senyuman yang masih menghiasi wajahku, hingga aku sampai di rumah.
Jarum jam telah menunjukkan pukul lima sore. Baru saja aku selesai mandi sore. Aku buka pintu lemariku, ingin mengambil baju terbagus yang berada di tingkat kayu paling atas lemariku, cukup tinggi untuk diraih dengan tanganku. Sepertinya rasa senang di hati ini dapat merubah segalanya, dengan semangat aku bisa langsung meraihnya.
Tak ku duga, selembar foto berukuran 4R jatuh tepat di kaki kananku, ketika berusaha menarik baju itu dari dalam lemari. Terlukis indah wajah Piko di atas kertas itu, dia kucing peliharaanku. Makhluk mungil yang selalu menemaniku, bahkan terkadang aku mencurahkan isi hatiku dengannya ketika ada masalah. Yang paling aku suka, yaitu bulunya yang berwarna coklat krim yang membuatnya terlihat mewah.
Sekitar tiga tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di bangku SMP kelas 3, aku menemukan Piko di samping rumah tetangga yang agak jauh dari rumahku. Dia masih sangat kecil dan berbulu sedikit. Dia terlihat kedinginan dan sekarat. Sepertinya dia kelaparan. Aku langsung membawanya ke rumahku dan memberinya makan. Keluargaku dengan senang hati membolehkanku untuk memeliharanya. Aku sangat senang. Dia lucu seperti Pikachu, karna itu aku menamainya Piko. Lalu, aku merawatnya hingga ia dewasa.
Aku teringat ketika aku kelas 2 SMA. Sesampai aku di rumah setelah pulang sekolah, aku melihatnya berdiri terdiam di teras rumah memperhatikan seekor kucing cantik berwarna putih yang berdiri di depan gerbang rumahku, sebut saja Melow karena warnanya putih seperti mars mellow. Piko terus memperhatikannya. Kucing putih itu pun bicara. Sepertinya dia memberikan sebuah kode.
“Meaw!” katanya.
“Meong!” seru Piko.
“Meaw, Meaaaaw…!” saut Melow dengan nada yang lebih tinggi.
“….” Piko terdiam, tak mengalihkan pandangannya selain ke wajah Melow.
Aku pusing mendengar percakapan mereka. Jangankan bahasa kucing, bahasa Inggris pun aku belum lancar. Oleh sebab itu, aku meninggalkan mereka di luar dan bergegas untuk beristirahat.
Terbangunlah aku di malam hari sekitar jam tujuh malam. Ibu sudah mempersiapkan makan malam di meja makan, satu piring untukku dan satunya untuk kucing tercintaku, Piko.
“Bu, Piko di mana?” tanyaku heran.
“Lho, Ibu kira dia tidur bersamamu di kamar?” jawab ibuku.
Aku berlari ke luar rumah, mencari Piko ke sekeliling daerah rumahku. Hanya berbalut kaus oblong dan celana kolor berwarna putih aku pergi mencarinya. Air mata terus menetes di pipiku. Hatiku sangat terpukul ketika tahu dia menghilang.
Kini aku sudah kelas 3 SMA, sampai sekarang pun belum pernah sekali saja aku melihat Piko. Entahlah, aku tak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati termakan alam yang liar?!
Ibu menepuk keras punggungku. Membawaku pergi dari bayang-bayang masa lalu. Dia mengingatkanku kembali bahwa aku ada pertemuan malam ini. Meskipun sekarang bukan malam Minggu, aku tetap bersyukur bisa menghabiskan malam bersama insan terkasihku, Raisa. Sepertinya waktu sudah menunjukkan jam setengah tujuh, sudah saatnya aku pergi menuju rumahnya. Segeralah aku berpamit dengan ibuku dan lekas pergi dengan membawa tas berwarna coklat berisi beberapa buku dan alat tulis. Aku berjalan kaki menuju rumah Raisa.
Setengah perjalanan telah ku tempuh. Perjalanan yang jauh bukanlah penghalang bagiku untuk tetap menuju rumahnya. Sayangnya, aku baru ingat bahwa jalan yang biasa ku lewati sepulang sekolah ditutup, karna ada pesta pernikahan. Terpaksa aku mengambil jalan memutar yang sangat jarang aku lewati.
Jalan itu gelap, sangat terlihat jelas dari kejauhan. Aku gugup dan tidak yakin untuk melewati jalan kecil itu. Namun, aku tidak punya pilihan lain. Akhirnya, aku tetap memberanikan diri untuk melewati gang itu.
Suasana tegang menyelimutiku. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya melewati gang sepi yang hanya bercahayakan bintang dan lampu 5 watt, rasanya sudah seperti uji nyali di sebuah acara televisi. Beberapa langkah telah ku tempuh, tetapi perasaanku semakin kacau. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya?! Yang pasti aku memiliki firasat yang buruk.
Selama kurang lebih lima menit aku menelusuri gang lurus itu, sampai akhirnya ku menemukan pertigaan jalan. Ku mencoba menerawang, mencari tahu lewat naluriku, memilih jalan mana yang harus ku lewati. Hatiku telah mantap, lebih memilih untuk belok ke kiri. Aku pun meneruskan perjalananku, masih  dengan hati yang cemas.
Tidak lama setelah ku berbelok, aku mendengar suara yang sedikit tidak jelas seperti memanggilku. Aku mengalihkan pandanganku ke belakang. Terlihat dua orang pemuda berambut tipis, yang berusia sekitar 22 tahun, sedang nongkrong sambil memegang gelas plastik yang berisi cairan berwarna hitam. Aku mengembalikan pandanganku ke arah depan untuk meneruskan langkahku. Salah satu dari mereka berbicara kembali, aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Aku menghiraukannya.
“Hei, berhenti kau!” salah satu pemuda berbicara dengan nada yang lebih tinggi.
 Aku terhenti dan sejenak berpikir. Kini aku tahu mengapa suara mereka samar. Sekarang aku juga mengerti minuman apa yang sedang mereka bawa. Itu bir, tidak salah lagi kalau mereka berdua sedang mabuk. Aku mencoba menenangkan perasaanku yang cukup tegang. Aku berjongkok sebentar, mengencangkan ikatan tali-tali di kedua sepatuku, aku kembali berdiri tegak, dan… lari.
Sepertinya sekarang hari sialku. Aku pikir dua orang pemuda bercelana pendek itu akan tetap duduk manis menghabiskan minumannya. Kenyataannya, mereka mengejarku. Aku terus berlari dalam kegelapan, berlari lurus ke depan. Aku cukup lega berhasil menjauhinya, sampai akhirnya di depanku terlihat jalan ke arah kiri. Dengan yakin aku berbelok ke arah kiri, niatku untuk menghilangkan jejakku. Namun, kakiku mendadak berhenti, ternyata jalan yang ku lalui ialah jalan buntu. Aku panik, hanya bisa mengamati sekeliling jalan buntu sepanjang sepuluh meter itu. Melihat ke kanan dan ke kiri, berharap menemukan sebuah tempat sampah agar ku dapat bersembunyi.
Jejak mereka semakin dekat, semakin jelas terdengar langkah kaki penuh kekejian itu. Tak ada jalan lain, aku harus menghadapinya. Aku berpikir, lebih baik aku mati berusaha daripada aku mati karena diam saja. Lalu aku berbalik ke belakang. Sudah ku duga mereka akan menemukanku. Mulai sekarang aku menyebutnya Tikus dan Lalat, karena bagiku mereka hanyalah hama di kota ini.
Dengan lelah mereka langsung berhenti di gang ini. Sepertinya mereka sudah tahu kalau ini jalan buntu. Mereka melihatku dan tersenyum jahat kepadaku. Aku menghela napas dalam, mengepalkan tangan, dan mengencangkan semua otot-ototku.  
“Kau tak bisa pergi sebelum menyerahkan barang berhargamu! Tapi kau bisa pergi jika mengalahkan kami.”tantang salah satu pemuda itu yang ku sebut Lalat, karena agak kurus.
“Sudahlah, menyerah saja! Kau hanya mencoba membunuh diri sendiri kalau melawan.” sahut Tikus yang bertubuh agak gemuk.
“Kita tak akan pernah tahu jika belum mencoba, bukankah begitu?” jawabku dengan yakin.
“Baiklah kalau itu maumu.” ujar Tikus dengan kesal.
Tikus mulai maju untuk menyerangku. Kini aku tengah mengalami pertarungan sengit. Tikus mencoba meninju wajahku dengan tangan kanannya. Aku berhasil menggerakkan kepalaku  ke arah kiri sehingga pukulannya meleset. Keadaannya lengah berkat gerakan menghindarku. Ini kesempatanku menyerangnya. Aku mengepalkan tangan kiriku dan mengencangkannya, dengan cepat aku memutar tubuh ke kanan dan memukul dengan kuat leher Tikus dari belakang. Dia terjatuh dengan cepat karna tinjuku, wajahnya membentur aspal dan pingsan.
Lalat terlihat sangat marah. Kerut di dahinya bertambah. Dia langsung menyerangku dengan kaki kanannya, aku berhasil menangkapnya. Namun, dia melompat dengan kaki kirinya dan langsung menendangku leher ku sebelah kanan. Aku terpental ke tembok. Tanganku melindungi kepalaku agar tak terbentur. Suasana semakin memanas, dia terlihat sangat marah, begitu pula diriku.
Aku mencoba membalas serangan Lalat. Ku kencangkan kaki kananku dan langsung menendang ke arah dadanya. Dia berhasil menangkap kakiku dan mendorongnya ke depan. Aku tetap berdiri, tetapi keseimbanganku hilang. Dia melompat ke udara, berputar 360 derajat ke arah kanan dan langsung menendangku dengan kaki kanannya. Aku hanya terpaku melihat gerakannya. Sepertinya kali ini bukan tandinganku, aku curiga dia mempunyai ilmu bela diri. Kaki kanannya tepat mengenai dadaku, aku terlontar jauh ke belakang dan membentur dinding.
Aku lelah dengan pertarungan ini. Jantungku berdegub kencang dan keringat pun membanjiri pakaianku. Di depan gang aku melihat kucing yang sangat mirip dengan Piko, aku melihatnya saat aku melayang di udara terkena tendangan Lalat. Kini dia sudah pergi dari pandanganku.
Lalat berhasil membuatku jatuh bersandar di tembok. Aku sudah menyerah dengan keadaan ini. Namun, dia terus memukul wajahku secara perlahan. Selama lima menit wajahku dipukulnya.
Tiba-tiba tujuh ekor kucing yang gagah. Sejumlah tiga ekor kucing datang dari belakang Lalat, dua ekor dari atap rumah sebelah kanan, dan dua ekor lagi dari atap rumah sebelah kiri. Kedua mataku sepertinya bengkak, aku tidak dapat melihat kucing-kucing itu dengan jelas. Namun, aku curiga kucing yang berdiri di tengah layaknya pemimpin itu adalah kucing yang mirip dengan Piko tadi. Ya, kucing yang datang dari arah belakang itu sepertinya memang Piko. Aku tersenyum melihatnya, tatapi aku juga heran mengapa mereka menghampiriku.
Mereka berlari ke arah Lalat. Entah apa yang akan mereka lakukan aku tidak mengerti. Mereka melompat. Satu ekor menyerang tangan kirinya, satu ekor lainnya menyerang tangan kanannya, dua ekor menyerang kaki kanannya, dua ekor lainnya menyerang kaki kirinya, dan Piko melompat tinggi dari belakang menuju tepat ke arah kepala Lalat untuk mencabik wajahnya. Oh Tuhan, aku semakin cemas. Aku rasa aku sudah di ambang kematian. Bagaimana tidak? Tujuh ekor kucing datang dan menyelamatkanku, sangat tidak masuk akal.
Kejadian itu tidak berlangsung lama. Sekarang pemuda tangguh yang jahat itu sudah terkapar di aspal dengan wajah yang penuh darah. Sepertinya dia hanya pingsan. Aku belum mampu berdiri, tubuhku masih lemas. Aku tetap duduk bersandar di dinding, memperhatikan kucing-kucing itu. Ternyata yang tadi ku lihat di depan gang memang Piko, dia pergi memanggil enam ekor temannya untuk menyelamatkanku.
Sepertinya Piko berniat membalas semua yang telah aku lakukan di masa lalu. Ya, aku merawatnya sejak kecil hingga ia besar. Dia perlahan menghampiriku, aku memeluknya. Aku dapat merasakannya, di dalam dirinya tersimpan kerinduan yang sama sepertiku. Aku tidak bisa memperhatikan keadaan sekitarku, karena aku belum cukup puas untuk melepas rinduku. Aku hanya terpejam dan terus memeluknya.
“Piko, pulanglah ke rumah!” aku mengajaknya untuk pulang saat aku memeluknya.
“Meaaaw!” sahut seekor kucing yang nadanya lebih tinggi seperti kucing betina.
Suara kucing itu tak asing bagiku, aku membuka mata, mencoba melihat siapa kucing itu. Dugaanku benar, ternyata suara itu berasal dari Melow, kucing putih yang cantik, yang saat itu membuat Piko terpana melihatnya. Melow datang dengan ramah, bersama dua ekor kucing kecil yang lucu. Kucing itu berwarna coklat krim seperti Piko, yang satu lagi berwarna putih seperti Melow.
Kini aku mengerti, kenapa saat itu Piko pergi dari rumah?! Karena dia seperti manusia, ingin berkeluarga. Dia pergi untuk mengejar Melow, dan dua kucing mungil itu ialah anaknya. Dia juga butuh teman. Sekarang aku mengerti bahwa cinta tidak harus memiliki, aku memang mencintai Piko. Aku memang selalu ingin hidup bersamanya. Namun, aku tidak boleh egois, karena dia juga punya kehidupannya sendiri, kehidupan sebagai kucing.
 “Meooong!” ujar Piko.
Piko turun dari pelukanku, menghampiri istri dan kedua anaknya. Dia pun mengajak temannya untuk pulang.
Saat-saat yang menegangkan telah selesai. Jarum jam pun menunjukkan pukul sembilan malam. Saat ini aku sudah bisa berdiri, walaupun tidak kokoh. Kedua penjahat tadi masih tergeletak di aspal, tak sadarkan diri. Aku mencoba jalan perlahan untuk kembali ke rumah dan beristirahat. Sangat mustahil bila aku tetap datang ke rumah Raisa. Namun, aku telah menelpon Raisa dan menjelaskan semuanya. Aku senang dia mengerti keadaanku, bahkan dia mau menjengukku di esok hari.
Terima kasih, Piko!
0

Senin, 12 November 2012

"Hidup itu menyebalkan, ada saatnya merasa senang, terkadang kita bersedih. Namun, itulah hidup. Hidup itu dinamis. Kalo setiap saat cuma seneng atau sedih namanya mati."

0

Nama gue Reza Arief Darmawan, dari dulu sampe sekarang gue masih betah tinggal di Kota Jakarta tercinta. Tumblr ini gue buat cuma buat iseng-iseng, pertamanya sih ikut-ikutan bikin biar dibilang gaul. Tapi sekarang misi gue udah beda, cuma mau berbagi cerita atau musik di sini. Gue, keterbatasan gue untuk mencapai sesuatu membuat gue berpikir berbeda, memikirkan sesuatu yang mungkin ga bakal bisa gue dapetin di hidup ini, bahasa kerennya sih dreaming. Ya,singkatnya gue suka mengkhayal! Udah itu aja tentang gue, gue mah orangnya ga neko-neko. Terima kasih yang sudah mau berkunjung! :)
0

Author